Penetapan Alokasi Dan Pedoman Umum Pengelolaan Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2007

Berdasarkan hasil rapat pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2007 mengenai Dana Alokasi Khusus antara Panitia Anggaran DPR-RI dengan Pemerintah, maka ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 128 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi dan Pedoman Umum Pengelolaan Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2007

PERATURAN MENTERI KEUANGAN

NOMOR 128 / PMK.07 / 2006

TENTANG

PENETAPAN ALOKASI DAN PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN

DANA ALOKASI KHUSUS TAHUN ANGGARAN 2007

MENTERI KEUANGAN,

Menimbang : a.      bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 58 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan, Menteri Keuangan menetapkan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) per daerah;

b.      bahwa sesuai dengan hasil rapat pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2007 mengenai DAK antara Panitia Anggaran DPR-RI dengan Pemerintah yang terdiri dari unsur Departemen Keuangan, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Kesehatan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Pertanian, Departemen Dalam Negeri, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, telah diputuskan alokasi DAK ke daerah;

c.       bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penetapan Alokasi dan Pedoman Umum Pengelolaan Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2007;

Mengingat 1.      Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

2.      Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

3.      Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);

4.      Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437);

5.      Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

6.      Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2006 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4662);

7.      Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);

8.      Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4662);

9.      Peraturan Menteri Keuangan Nomor 102/PMK.06/2006 tentang Petunjuk Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan Revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2007.

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENETAPAN ALOKASI DAN PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN DANA ALOKASI KHUSUS TAHUN ANGGARAN 2007.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan :

1.   Dana Alokasi Khusus, yang selanjutnya disebut DAK adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

2.   Menteri Teknis adalah Menteri yang bertugas dan bertanggung jawab di bidang teknis tertentu (Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Pertanian, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Negara Lingkungan Hidup).

3.   Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, yang selanjutnya disebut APBN adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan Negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

4.         Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, yang selanjutnya disebut APBD adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan Daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

5.         Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

6.         Daerah Otonom, yang selanjutnya disebut Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

7.         Kepala Daerah adalah gubernur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten atau walikota bagi daerah kota.

8.         Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disebut SKPD adalah Perangkat Daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/barang.

9.         Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD, yang selanjutnya disebut DPA-SKPD adalah dokumen yang memuat pendapatan dan belanja setiap SKPD yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan oleh Pengguna Anggaran.

10.     Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran, yang selanjutnya disebut DIPA, adalah dokumen yang memuat sasaran yang hendak dicapai, fungsi, sub fungsi, program, kegiatan, sub kegiatan, MAK, rencana penarikan tiap-tiap bulan serta pendapatan yang diperkirakan oleh Satuan Kerja dalam 1 (satu) tahun.

11.     Surat Rincian Alokasi Anggaran, yang selanjutnya disebut SRAA, adalah dokumen rincian alokasi dana yang merupakan batas tertinggi pengeluaran dan disahkan Direktur Jenderal Perbendaharaan terhadap konsep DIPA yang disampaikan Kepala Daerah penerima DAK.

BAB II

RUANG LINGKUP

Pasal 2

(1)      DAK dialokasikan dalam APBN sesuai dengan program yang menjadi prioritas nasional.

(2)      DAK dialokasikan kepada Daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menjadi urusan Daerah.

(3)      Daerah Tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Daerah yang dapat memperoleh alokasi DAK berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis.

Pasal 3

DAK dialokasikan untuk membantu Daerah mendanai kebutuhan fisik sarana dan prasarana dasar yang merupakan prioritas nasional di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur (jalan, irigasi, dan air bersih), kelautan dan perikanan, pertanian, prasarana pemerintahan daerah, serta lingkungan hidup.

BAB III

ALOKASI DAK

Pasal 4

(1)      Alokasi DAK untuk Tahun Anggaran 2007 ditetapkan sebesar Rp 17.094.100.000.000,00 (tujuh belas triliun sembilan puluh empat miliar seratus juta rupiah).

(2)      Alokasi DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan untuk :

a.      Bidang pendidikan sebesar Rp 5.195.290.000.000,00 (lima triliun seratus sembilan puluh lima miliar dua ratus sembilan puluh juta rupiah);

b.      Bidang kesehatan sebesar Rp 3.381.270.000.000,00 (tiga triliun tiga ratus delapan puluh satu miliar dua ratus tujuh puluh juta rupiah);

c.       Bidang infrastruktur sebesar Rp 5.034.340.000.000,00 (lima triliun tiga puluh empat miliar tiga ratus empat puluh juta rupiah) dengan rincian :

1)      prasarana jalan sebesar Rp 3.113.060.000.000,00 (tiga triliun seratus tiga belas miliar enam puluh juta rupiah);

2)      prasarana irigasi sebesar Rp 858.910.000.000,00 (delapan ratus lima puluh delapan miliar sembilan ratus sepuluh juta rupiah);

3)      prasarana air bersih dan sanitasi sebesar Rp 1.062.370.000.000,00 (satu triliun enam puluh dua miliar tiga ratus tujuh puluh juta rupiah);

d.     Bidang prasarana pemerintahan daerah sebesar Rp 539.060.000.000,00 (lima ratus tiga puluh sembilan miliar enam puluh juta rupiah);

e.      Bidang kelautan dan perikanan sebesar Rp 1.100.360.000.000,00 (satu triliun seratus miliar tiga ratus enam puluh juta rupiah);

f.        Bidang pertanian sebesar Rp 1.492.170.000.000,00 (satu triliun empat ratus sembilan puluh dua miliar seratus tujuh puluh juta rupiah); dan

g.      Bidang lingkungan hidup sebesar Rp 351.610.000.000,00 (tiga ratus lima puluh satu miliar enam ratus sepuluh juta rupiah).

BAB IV

ARAH KEGIATAN

Bagian Pertama

Bidang Pendidikan

Pasal 5
(1)      DAK bidang pendidikan dialokasikan untuk menunjang pelaksanaan Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 (sembilan) tahun.

(2)      DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperuntukkan bagi SD/SDLB dan MI/Salafiah, termasuk sekolah-sekolah setara SD yang berbasis keagamaan dengan kegiatan:

a.      rehabilitasi fisik gedung sekolah/ruang kelas;

b.      pembangunan dan/atau rehabilitasi sarana sanitasi air bersih dan mandi, cuci, kakus (MCK);

c.       pengadaan meubelair untuk ruang kelas;

d.      pembangunan/rehabilitasi rumah dinas untuk penjaga sekolah/guru/kepala sekolah; dan

e.       peningkatan mutu sekolah dengan pembangunan/ penyediaan sarana dan prasarana perpustakaan serta fasilitas pendidikan lainnya di sekolah.

Bagian Kedua

Bidang Kesehatan

Pasal 6

(1)   DAK bidang kesehatan dialokasikan untuk dapat meningkatkan jangkauan, dan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Kabupaten/Kota terutama kelompok Kabupaten/Kota dengan derajat kesehatan masyarakat yang belum optimal.

(2)   DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk kegiatan:

a.     Pengadaan peralatan medis dan non medis yang diperuntukkan bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), Pos Kesehatan Desa, Puskesmas Perawatan, Puskesmas Keliling, dan Pondok Bersalin Desa (Polindes);

b.      Peningkatan fisik Puskesmas menjadi Puskesmas rawat inap, Pustu menjadi Puskesmas;

c.      Pengadaan fisik dan/atau rehabilitasi Pusling perairan/Puskesmas terapung, Pusling roda 4;

d.     Pembangunan/rehabilitasi dan perluasan gedung Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan Pondok Bersalin Desa (Polindes);

e.     Pembangunan baru Pos Kesehatan Desa;

f.       Pengadaan kendaraan bermotor roda 2 untuk petugas Puskesmas dan bidan desa;

g.      Pembangunan baru/rehabilitasi rumah dinas dokter, perawat, dan bidan Puskesmas; dan

h.     Pengadaan Sarana Gudang Farmasi Kabupaten/Kota.

(3)   Masing-masing Daerah dapat memilih kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan prioritas di Daerah dengan memperhatikan alokasi DAK bidang kesehatan yang diterimanya.

Bagian Ketiga

Bidang Infrastruktur

Pasal 7

(1)   DAK bidang infrastruktur dialokasikan untuk mempertahankan dan meningkatkan daya dukung, kapasitas dan kualitas pelayanan prasarana jalan dalam rangka melancarkan distribusi barang dan jasa serta hasil produksi, mempertahankan tingkat layanan irigasi dan mengoptimalkan infrastruktur sistem irigasi, meningkatkan cakupan dan kehandalan pelayanan air bersih dan sanitasi.

(2)   DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk kegiatan:

a.      Penanganan prasarana jalan dan jembatan yang diarahkan untuk kegiatan pemeliharaan berkala, serta peningkatan prasarana jalan dan penggantian jembatan di Kabupaten/Kota;

b.      Penanganan prasarana irigasi yang diarahkan untuk kegiatan pemeliharaan irigasi dan rehabilitasi jaringan irigasi kabupaten/kota yang utuh dalam kabupaten/kota dengan luas < 1000 ha beserta bangunan pelengkapnya untuk menunjang produksi pertanian; dan

c.       Penanganan prasarana dan sarana air bersih yang diarahkan untuk kegiatan perbaikan, peningkatan dan pembangunan baru sistem prasarana air bersih bagi masyarakat pada daerah rawan air bersih dan kekeringan di perdesaan dan perkotaan serta penanganan prasarana dan sarana sanitasi yang diarahkan untuk kegiatan perbaikan, peningkatan dan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi untuk daerah-daerah rawan sanitasi di perdesaan dan perkotaan.

(3)         Masing-masing Daerah dapat memilih kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan prioritas di Daerah dengan memperhatikan alokasi DAK bidang infrastruktur yang diterimanya.

Bagian Keempat

Bidang Kelautan dan Perikanan

Pasal 8

(1)         DAK bidang Kelautan dan Perikanan dialokasikan untuk meningkatkan prasarana dasar di bidang kelautan dan perikanan khususnya dalam menunjang pengembangan perikanan tangkap dan budidaya serta pengembangan pulau-pulau kecil di Daerah.

(2)         DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk kegiatan:

a.      Penyediaan/rehabilitasi sarana dan prasarana Perikanan Tangkap;

b.      Penyediaan/rehabilitasi sarana dan prasarana Perikanan Budidaya;

c. Penyediaan sarana dan prasarana pengolahan dan pemasaran hasil perikanan;

d.     Penyediaan sarana dan prasarana pemberdayaan di pesisir dan Pulau-pulau Kecil; dan

e.      Penyediaan sarana Pengawasan.

(3)         Masing-masing Daerah dapat memilih kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan prioritas di Daerah dengan memperhatikan alokasi DAK bidang kelautan dan perikanan yang diterimanya.

Bagian Kelima

Bidang Pertanian

Pasal 9

(1)         DAK bidang pertanian dialokasikan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pertanian guna mendukung ketahanan pangan dan agribisnis.

(2)         DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk kegiatan:

a.      Sarana dan prasarana Kelembagaan Perbenihan Tanaman Pangan;

b.      Sarana dan prasarana Kelembagaan Perbenihan/ Pembibitan Hortikultura;

c.       Sarana dan prasarana Kelembagaan Pembibitan Peternakan;

d.     Sarana dan prasarana Kelembagaan Perbenihan/ Pembibitan Perkebunan;

e.      Sarana dan prasarana Kelembagaan Penyuluhan Pertanian; dan

f.        Prasarana Kelembagaan Ketahanan Pangan.

(3)         Masing-masing Daerah dapat memilih kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan prioritas di Daerah dengan memperhatikan alokasi DAK bidang pertanian yang diterimanya.

Bagian Keenam

Bidang Prasarana Pemerintahan Daerah

Pasal 10

(1)         DAK bidang prasarana pemerintahan Daerah dialokasikan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pemerintahan guna mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah pemekaran dan daerah yang mengalami dampak/akibat pemekaran dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2004.

(2)         DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pemerintahan, guna mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan Daerah.

Bagian Ketujuh

Bidang Lingkungan Hidup

Pasal 11

(1)         DAK bidang lingkungan hidup dialokasikan untuk meningkatkan kapasitas daerah dalam mengendalikan kerusakan dan pencemaran lingkungan, meningkatkan kepedulian dan partisipasi semua pihak yang berkepentingan di daerah dalam menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup, serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup Indonesia.

(2)         DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk kegiatan:

a.      Pengadaan sarana dan prasarana pemantauan kualitas air;

b.      Pengadaan sarana dan prasarana pencegahan pencemaran lingkungan; dan

c.       Pengadaan sarana dan prasarana perlindungan sumber daya air.

(3)         Masing-masing Daerah dapat memilih kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan prioritas di Daerah dengan memperhatikan alokasi DAK bidang lingkungan hidup yang diterimanya.

BAB V

KRITERIA

Bagian Pertama

Kriteria Umum

Pasal 12

(1)         Pengalokasian DAK diprioritaskan untuk Daerah-Daerah yang memiliki kemampuan fiskal rendah atau di bawah rata-rata nasional.

(2)         Kemampuan Fiskal Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada selisih antara realisasi Penerimaan Umum Daerah (Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, dan Dana Bagi Hasil) dengan belanja Pegawai Negeri Sipil Daerah pada APBD Tahun Anggaran 2005.

Bagian Kedua

Kriteria Khusus

Pasal 13

Pengalokasian DAK memperhatikan Daerah-Daerah tertentu yang memiliki karakteristik dan/atau berada di wilayah:

a.      Provinsi Papua yang merupakan Daerah Otonomi Khusus;

b.      daerah pesisir dan kepulauan, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah tertinggal/terpencil, dan daerah yang masuk kategori ketahanan pangan, dan daerah pariwisata;

c.       daerah rawan banjir/longsor, daerah penampung transmigrasi, daerah yang memiliki pulau-pulau kecil terdepan, daerah yang alokasi DAU-nya dalam tahun 2007 tidak mengalami kenaikan, daerah rawan pangan dan/atau kekeringan, daerah pascakonflik, daerah penerima pengungsi.

Bagian Ketiga

Kriteria Teknis

Pasal 14

Kriteria Teknis kegiatan DAK untuk bidang pendidikan dirumuskan oleh Menteri Pendidikan Nasional, bidang kesehatan dirumuskan oleh Menteri Kesehatan, bidang infrastruktur jalan, irigasi, dan air bersih dan sanitasi dirumuskan oleh Menteri Pekerjaan Umum, bidang kelautan dan perikanan dirumuskan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, bidang pertanian dirumuskan oleh Menteri Pertanian, bidang prasarana pemerintahan daerah dirumuskan oleh Menteri Dalam Negeri, dan bidang lingkungan hidup dirumuskan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Pasal 15

Kriteria Teknis kegiatan bidang pendidikan mempertimbangkan:

a.      Jumlah ruang kelas Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah keagamaan setara SD yang mengalami kerusakan;

b.      Jumlah Sekolah Dasar (SD) dan sekolah keagamaan setara SD;

c.       Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).

Pasal 16

Kriteria Teknis kegiatan bidang kesehatan mempertimbangkan:

a.      Human Poverty Index (Indeks kemiskinan masyarakat);

b.      Luas Wilayah;

c.       Jumlah Penduduk;

d.     Jumlah Puskesmas (Perawatan dan Non Perawatan), Puskesmas Pembantu (Pustu), Pondok Bersalin Desa (Polindes), Puskesmas Keliling (Perairan dan Roda Empat), Rumah Dinas Dokter dan Paramedis;

e.      Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).

Pasal 17

(1)      Kriteria Teknis kegiatan bidang infrastruktur meliputi :

a.    Kriteria Teknis untuk prasarana jalan;

b.   Kriteria Teknis untuk prasarana irigasi;

c.    Kriteria Teknis untuk prasarana air bersih dan sanitasi.

(2)      Kriteria Teknis untuk prasarana jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a mempertimbangkan:

a.      Panjang jalan kabupaten/kota (km);

b.      Panjang jalan kabupaten/kota dalam kondisi rusak (km);

c.       Kinerja jalan kabupaten/kota;

d.     Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).

(3)      Kriteria Teknis untuk prasarana irigasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b mempertimbangkan:

a.      Luas daerah irigasi (DI) kabupaten/kota (ha);

b.      Kerusakan daerah irigasi (DI) (ha dan km);

c.       Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).

(4)      Kriteria Teknis untuk prasarana air bersih dan sanitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c mempertimbangkan:

a.      Jumlah desa dan kelurahan (desa/kelurahan);

b.      Jumlah desa dan kelurahan rawan air bersih (desa/kelurahan);

c.       Jumlah Penduduk (jiwa);

d.     Tingkat/cakupan pelayanan air limbah (%-ase jiwa);

e.      Tingkat/cakupan pelayanan persampahan (%-ase jiwa);

f.        Luas genangan di kabupaten/kota (ha);

g.      Luas kawasan kumuh di kabupaten/kota (ha);

h.      Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).

Pasal 18

Kriteria Teknis kegiatan bidang kelautan dan perikanan mempertimbangkan:

a.      Luas baku usaha budidaya (ha);

b.      Produksi perikanan budidaya (ton);

c.       Jumlah balai benih ikan (unit);

d.     Produksi perikanan tangkap (ton);

e.      Jumlah Pangkalan Pendaratan Ikan (unit);

f.        Panjang Garis Pantai (km);

g.      Jumlah Pulau-pulau Kecil (buah);

h.      Jumlah Pokwasmas (Kelompok);

i.        Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).

Pasal 19

Kriteria Teknis kegiatan bidang pertanian mempertimbangkan:

a.      Jumlah kelembagaan perbenihan/pembibitan (unit);

b.      Populasi ternak (ekor);

c.       Luas baku lahan pertanian (ha);

d.     Jumlah kantor penyuluh pertanian (unit);

e.      Jumlah penyuluh pertanian (orang);

f.        Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).

Pasal 20

Kriteria Teknis kegiatan bidang prasarana pemerintahan daerah mempertimbangkan:

a.      Kabupaten/Kota pemekaran dan/atau kabupaten induk yang pindah ibukota karena lahirnya kota otonom baru dan belum pernah mendapat DAK Prasarana Pemerintahan;

b.      Kabupaten/Kota pemekaran dan/atau kabupaten induk yang pindah ibukota karena lahirnya kota otonom baru dan baru sekali menerima DAK Prasarana Pemerintahan;

c.       Kabupaten pemekaran yang sudah dua kali menerima DAK prasarana pemerintahan, dan masuk kategori daerah tertinggal;

d.     Kabupaten/Kota pemekaran yang belum pernah menerima alokasi DAK prasarana pemerintahan dan tidak masuk sebagai daerah yang mendapatkan alokasi DAK pada perhitungan prioritas pertama;

e.      Kabupaten/Kota pemekaran yang sudah dua kali menerima DAK Prasarana Pemerintahan tetapi tidak termasuk kategori daerah tertinggal;

f.        Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).

Pasal 21

Kriteria Teknis kegiatan bidang lingkungan hidup mempertimbangkan:

a.      Panjang sungai tercemar kabupaten/kota (km);

b.      Jumlah Kepadatan Penduduk (jiwa);

c.       Luas Tutupan Lahan (ha);

d.     Luas Lahan Kritis (ha);

e.      Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK).

BAB VI

PENGHITUNGAN ALOKASI

Pasal 22

Alokasi DAK masing-masing Daerah ditentukan dengan perhitungan indeks berdasarkan Kriteria Umum, Kriteria Khusus, dan Kriteria Teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 sampai dengan Pasal 21.

BAB VII

PENETAPAN ALOKASI UNTUK DAERAH

Pasal 23

(1)         Rincian Daerah penerima dan besaran alokasi DAK untuk masing-masing bidang adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan ini.

(2)         Penetapan alokasi DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan kepada Kepala Daerah, Menteri Teknis, Menteri Dalam Negeri, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas dan Direktur Jenderal Perbendaharaan.

BAB VIII

DANA PENDAMPING

Pasal 24

(1)         Untuk menyatakan komitmen dan tanggung jawab Daerah dalam pelaksanaan program yang didanai DAK, Daerah penerima DAK wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% (sepuluh persen) dari nilai DAK yang diterimanya untuk mendanai kegiatan fisik.

(2)         Dana Pendamping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dianggarkan dalam APBD Tahun Anggaran 2007, untuk mendanai kegiatan fisik.

(3)         Dalam hal Daerah tidak menganggarkan Dana Pendamping sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka pencairan DAK Daerah dimaksud tidak dapat dilakukan.

(4)         Dana Pendamping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan dalam Rencana Definitif (RD) dan DPA-SKPD atau dokumen pelaksana anggaran sejenis lainnya.

BAB IX

PETUNJUK TEKNIS

Pasal 25

(1)         Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini, Menteri Teknis menetapkan Petunjuk Teknis penggunaan DAK.

(2)         Petunjuk Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan paling lambat 2 (dua) minggu setelah Peraturan Menteri Keuangan ini ditetapkan dan disampaikan kepada:

a. Menteri Keuangan

1) c.q. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan;

2) c.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan;

3) c.q. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan; dan

b. Kepala Daerah.

BAB X

PERENCANAAN KEGIATAN

Pasal 26

(1)         Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini, Direktur Jenderal Perbendaharaan menerbitkan SRAA-DAK Tahun Anggaran 2007 dan selanjutnya dikirimkan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan.

(2)         Alokasi DAK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) wajib dicantumkan dalam APBD Tahun Anggaran 2007.

(3)         Kepala Daerah penerima DAK menyusun rencana penggunaan DAK sesuai Peraturan Menteri Keuangan ini dan Petunjuk Teknis yang diterbitkan oleh Menteri Teknis terkait.

(4)         Rencana penggunaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam bentuk RD yang memuat rincian kegiatan yang akan didanai DAK beserta rencana biaya yang bersumber dari DAK dan Dana Pendamping.

(5)         Berdasarkan RD sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Kepala Daerah menyusun konsep DIPA.

(6)         Konsep DIPA sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan c.q. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan setempat.

(7)         Berdasarkan SRAA-DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan setempat melakukan konfirmasi atas RD dan DIPA sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dengan Kepala Daerah Penerima DAK atau pejabat yang ditunjuk.

(8)         Konfirmasi dilakukan dengan cara melihat kesesuaian kegiatan antara RD dengan Peraturan Menteri Keuangan ini dan Petunjuk Teknis yang diterbitkan oleh Menteri Teknis terkait.

(9)         Dalam melaksanakan konfirmasi, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan setempat tidak dapat mengurangi besaran alokasi DAK yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan ini.

(10)    Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan setempat atas nama Menteri Keuangan mensahkan Surat Pengesahan DIPA Dana Alokasi Khusus (SPDIPA DAK) dan menyampaikannya beserta lampiran RD kepada:

a.      Kepala Daerah penerima DAK;

b.      Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan;

c.       Menteri Teknis yang bersangkutan;

d.     Direktur Jenderal Perbendaharaan; dan

e.      Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara setempat.

Pasal 27

(1)         Atas dasar DIPA DAK, Kepala Daerah penerima DAK menyusun DPA-SKPD atau atau dokumen pelaksana anggaran sejenis lainnya dan mengirimkan 1 (satu) eksemplar kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan setempat.

(2)         DPA-SKPD atau atau dokumen pelaksana anggaran sejenis lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat kegiatan dan alokasi DAK serta Dana Pendampingnya.

(3)         Dalam hal tidak terdapat kesesuaian antara DPA-SKPD atau atau dokumen pelaksana anggaran sejenis lainnya dengan DIPA DAK, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan setempat mengembalikan DPA-SKPD atau atau dokumen pelaksana anggaran sejenis lainnya dimaksud untuk direvisi dan disesuaikan dengan DIPA DAK.

BAB XI

KELEMBAGAAN

Pasal 28

(1)         Untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan DAK dapat dibentuk Tim Koordinasi pada masing-masing Pemerintah Daerah.

(2)         Tim Koordinasi bertugas:

a.      mengkoordinasikan kegiatan DAK dalam hal perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan pemantauan;

b.      mengkoordinasikan kegiatan DAK agar terjadi sinkronisasi, sinergi, dan tidak tumpang tindih dengan kegiatan pembangunan lainnya; dan

c.       mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan yang terkait dengan aspek transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas pada masing-masing kegiatan DAK.

(3)         Masing-masing Kepala Daerah penerima DAK dapat menunjuk dan mengukuhkan Pejabat Daerah yang menangani koordinasi perencanaan pembangunan Daerah sebagai koordinator Tim Koordinasi dengan anggota dari masing-masing dinas pelaksana DAK.

BAB XII

PENYALURAN DAN PELAKSANAAN

Pasal 29

(3)         DAK disalurkan dengan cara pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah.

(4)         Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme dan tatacara penyaluran DAK diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan.

Pasal 30

(3)         Pelaksanaan kegiatan yang didanai DAK harus selesai paling lambat pada tanggal 31 Desember 2007.

(4)         Hasil dari kegiatan yang didanai DAK harus sudah dapat dimanfaatkan pada akhir Tahun Anggaran 2007.

BAB XIII

PEMANTAUAN DAN PENGAWASAN

Pasal 31

(1)         Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional bersama-sama dengan Menteri Teknis melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan teknis pelaksanaan kegiatan yang didanai dari DAK sesuai dengan kewenangan masing-masing.

(2)         Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi pengelolaan keuangan DAK.

Pasal 32

Pengawasan fungsional/pemeriksaan pelaksanaan kegiatan dan pengelolaan keuangan DAK dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB XIV

PELAPORAN

Pasal 33

(1)            Kepala daerah menyampaikan laporan triwulan yang memuat laporan pelaksanaan kegiatan dan penggunaan DAK kepada :

a.      Menteri Keuangan cq. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dan Direktur Jenderal Perbendaharaan, dengan menggunakan format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan ini;

b.      Menteri Teknis; dan

c.       Menteri Dalam Negeri .

(2)      Penyampaian laporan triwulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah triwulan yang bersangkutan berakhir.

(3)      Penyaluran DAK dapat ditunda apabila Daerah tidak menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

(4)      Menteri Teknis menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan DAK pada akhir tahun anggaran kepada Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, dan Menteri Dalam Negeri.

BAB XV

KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 34

(1)      Daerah penerima DAK melakukan optimalisasi penggunaan atas besaran DAK yang diterimanya.

(2)      Optimalisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan untuk bidang yang sama.

Pasal 35

(1)      Dalam hal terjadi bencana alam, daerah dapat mengubah penggunaan DAK untuk kegiatan di luar yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan dan Petunjuk Teknis, setelah sebelumnya mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan dan Menteri Teknis terkait.

(2)      Perubahan penggunaan DAK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang dalam bidang yang sama dan tidak mengubah besaran alokasi DAK pada bidang tersebut.

(3)      Persetujuan Menteri Keuangan dan Menteri Teknis terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada daerah yang bersangkutan.

Pasal 36

Kegiatan yang tidak dapat didanai dari DAK meliputi:

1.      Administrasi kegiatan;

2.      Penyiapan kegiatan fisik;

3.      Penelitian;

4.      Pelatihan; dan

5.      Perjalanan pegawai Daerah.

Pasal 37

Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2007.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 15 Desember 2006

MENTERI KEUANGAN,

ttd

SRI MULYANI INDRAWATI

Lampiran …

View | Permenkeu – 128 – PMK. 07 – 2006

View | Lampiran Permenkeu – 128 – PMK. 07 – 2006